Postingan

Menampilkan postingan dengan label Esai

Minilik Sisi Lain dari Cap 'Pintar' dan Cap 'Bodoh'

Gambar
Hakim menghakimi. Begitulah dunia ini bekerja dalam setiap hela napasnya. Napas setiap insannya barangkali tidak pernah absen, barang satu atau dua kali, pasti pernah menunaikan penghakiman. Menjadi hakim tentulah menyenangkan sebab dengan begitu, setidaknya bisa membawa diri pada penjelmaan sesuatu yang menginsafi pembenaran, mempunyai kendali atas sesuatu, dan tentu saja menjadikan diri sebagai orang yang lebih baik dan paling paham akan perkara yang sedang dihakimi. Setidaknya, itu diyakini oleh setiap ‘hakim’ yang tersebar di berbagai penjuru dunia: rumah, sekolah, kantor, jalanan, pemerintahan, lingkungan pertemanan, lingkungan keluarga, di kota-kota, di desa-desa, sampai pada lekuk-lekuk bumi yang tersembunyi dan tidak tertembus pandangan. Oleh karena itu, bukan suatu keganjilan manakala banyak orang yang berlomba-lomba menghakimi, baik secara sadar, tidak sadar, atau ironisnya malah hanya ikut-ikutan tanpa tahu duduk perkara dan akibatnya. Memang, dunia ini menggemaskan layaknya...

KKPK: Jalin Kelindan Antara Angin Segar yang Memabukkan dan Kegelapan yang Tak Bertepi

  “Give us books,” say the children, “give us wings.” 1 Betapa menggetarkan ungkapan di atas: bombastis sekaligus mengkhawatirkan. Bombastis sebab ungkapan metaforis itu secara pasti menyuarakan dan melegalkan kebutuhan anak akan bacaan. Melalui kesempatan berfantasi lewat cerita, dengan polos, riang gembira, dan gagahnya, anak dapat terbang bebas mengarungi dunia tanpa kerisauan. Mengkhawatirkan sebab tidak sedikit ruang dalam cerita itu justru menawarkan spektrum kegelapan yang dapat membawa anak terbang ke sisi-sisi dunia yang bias dan mengerikan. Di dunia yang fana ini manusia membumi bersama cerita. Cerita menjelma menjadi bagian dari daging manusia yang turut membangun, mendokumentasikan, serta mengekalkan suatu pemikiran dan peradaban. Tidak akan ada cerita tanpa manusia dan tidak ada manusia tanpa cerita. Bahkan, manusia besar dan sejati adalah manusia yang tumbuh dengan cerita-cerita, dengan dongeng-dongeng, dengan kisah-kisah. Semua orang, tanpa terkecuali, butuh dan sena...

Mengenal Hakikat Esai sebagai Bangunan yang Menawarkan Ruang dengan Penuh Cita Rasa

         Mungkin sekali banyak orang yang terperangkap dalam skema tulisan yang terlibat dalam kesesatan, keluar dari tujuan awal, atau bahkan tidak sesuai dengan sesuatu yang dipahaminya sejak semula. Hal ini merumuskan dan mengindikasikan bahwa tidak sedikit pula orang yang hendak menulis esai, tetapi justru terjerembab pada sesuatu yang bukan esai. Begitu pula sebaliknya, mungkin banyak orang yang membuat sebuah tulisan yang berbentuk esai, tetapi penulisnya tidak menyadari bahwa sesuatu yang ditulisnya adalah esai. Kekeliruan dan ketidakpahaman ini layaknya kawan karib bagi manusia. Keberadaannya tidak pernah absen merongrong, apalagi jika dikaitkan dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang tidak selalu sempurna, lepas dari kesalahan.      Semestinya kecenderungan anggapan manusia yang memandang keterlibatan manusia dalam ketidaksempurnaan sebagai sesuatu yang wajar jangan selalu dijadikan kambing hitam dan dalih untuk untuk mendapatkan pe...