Postingan

Menampilkan postingan dengan label Artikel

KKPK: Jalin Kelindan Antara Angin Segar yang Memabukkan dan Kegelapan yang Tak Bertepi

  “Give us books,” say the children, “give us wings.” 1 Betapa menggetarkan ungkapan di atas: bombastis sekaligus mengkhawatirkan. Bombastis sebab ungkapan metaforis itu secara pasti menyuarakan dan melegalkan kebutuhan anak akan bacaan. Melalui kesempatan berfantasi lewat cerita, dengan polos, riang gembira, dan gagahnya, anak dapat terbang bebas mengarungi dunia tanpa kerisauan. Mengkhawatirkan sebab tidak sedikit ruang dalam cerita itu justru menawarkan spektrum kegelapan yang dapat membawa anak terbang ke sisi-sisi dunia yang bias dan mengerikan. Di dunia yang fana ini manusia membumi bersama cerita. Cerita menjelma menjadi bagian dari daging manusia yang turut membangun, mendokumentasikan, serta mengekalkan suatu pemikiran dan peradaban. Tidak akan ada cerita tanpa manusia dan tidak ada manusia tanpa cerita. Bahkan, manusia besar dan sejati adalah manusia yang tumbuh dengan cerita-cerita, dengan dongeng-dongeng, dengan kisah-kisah. Semua orang, tanpa terkecuali, butuh dan sena...

Tubuh adalah Situasi: Subjektivitas Perempuan Menurut Simone de Beauvoir

  Subjektivitas dalam ranah kajian feminis mengarah pada perasaan, pikiran sadar, dan makna diri dari seorang individu. Itu artinya, subjektivitas perempuan berkelindan dengan kesadaran perempuan dalam mempersepsi diri dan tubuhnya, baik dalam konteks dirinya sebagai individu maupun dalam relasinya dengan laki-laki. Perempuan yang mengukuhkan subjektivitasnya mempunyai kemungkinan yang besar untuk terhindar dari berbagai bentuk subordinasi atau objektifikasi yang dilakukan oleh laki-laki dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Menurut   Moi (1999: 7) , hal yang harus digarisbawahi dari pemikiran Beauvoir tentang subjektivitas perempuan adalah bahwa proses pembangunan dan perwujudan subjektivitas perempuan senantiasa secara langsusng terlibat dan berkelindan dengan tubuh serta pengalaman fisik yang dalam praktiknya tidak ditentukan secara esensial atau biologis. Dalam hal ini, pembedaan atas dasar seks atau gender tidak menjadi dasar dari rumusan subjektivitas yang disampaikan...

Pintu Masuk ke Dalam Sebuah Paradigma Teori Sastra: Perlukah Teori Sastra?

Sebuah pernyataan menohok berkenaan dengan hakikat sastra—yang barangkali juga diakui oleh banyak pihak—disampaikan oleh A. Teeuw, seorang ahli sastra dan budayawan, dalam bukunya yang berjudul Sastra dan Ilmu Sastra . Di dalam bukunya itu, ia mendeklarasikan bahwa ilmu sastra menjadi satu-satunya cabang ilmu yang objek utamanya sama sekali tidak tentu, bahkan tidak karuan (Teeuw, 2013: 5). Pernyataan ini tentu saja tidak akan pernah absen dan sulit untuk dibantah, mengingat, sampai detik ini pun belum ada orang yang mampu merumuskan dan memberi jawaban yang tegas dan pasti terhadap hal yang paling mendasar tersebut. Banyak di antaranya yang hanya menitikberatkan pada satu atau beberapa aspek saja, alhasil hanya mampu merambah sastra tertentu. Namun, tidak sedikit pula yang memberikan batasan yang terlalu luas sehingga banyak hal-hal yang bukan sastra juga masuk ke dalamnya. Problematika mengenai definisi sastra ini memang belum menemukan titik terang yang bisa membuat semua orang meng...

Manifestasi Dialogisme Bakhtin: Dari Dasar Pemikiran hingga Wujud Teorinya

            Berbicara tentang teori yang berada di tataran wilayah kajian budaya dan sastra, maka aliran Bakhtin tidak akan absen dari khazanah tataran tersebut. Aliran Bakhtin merupakan paham yang dikonstruksikan oleh sekumpulan sarjana Soviet yang bergerak pada akhir masa Formalisme Rusia pada tahun 1920 (Suwondo, 2001a:12). Sejak awal perkembangannya, aliran ini berupaya mensintesiskan dua aliran yang notabene saling kontradiksi. Kedua aliran yang dimaksud adalah Marxisme—aliran yang memandang bahwa kajian sastra tidak lain merupakan studi ideologis sehingga dalam praktiknya teks sastra ditempatkan dalam lingkungan ideologis yang keseluruhannya dikendalikan oleh struktur ekonomi masyarakat—dan formalisme—aliran yang menganggap karya sastra sebagai konstruksi bahasa sehingga teks sastra diperlakukan sebagai objek kajian yang otonom, lepas dari aspek-aspek di luar dirinya. Bakhtin dan Medvede (dalam Suwondo, 2001a:13) menjelaskan pensintesisan tersebu...