Cerpen "Metamorfosa"
Metamorfosa
Album foto kupu-kupu koleksi Ibu
acapkali berpindah tempat, yang mulanya berada di ruang tamu, berpindah ke
pekarangan rumah. Setelah aku mengembalikannya ke tempat semula, ke esokan
harinya, album foto itu pasti sudah berada di pekarangan lagi, tersimpan rapi
di atas bekas rumah kupu-kupu. Keanehan itu mulai terasa dua bulan setelah
kepergian Ibu yang menembus ruang dan waktu.
Belum
lama ini, di dekat album foto itu terdapat seekor kupu-kupu yang begitu cantik.
Sayapnya mengembang seperti pelangi, begitupun dengan warnanya: merah, jingga,
hijau, biru, ungu, nila, kuning berpendar begitu padu. Tak pernah sebelumnya
aku melihat kupu-kupu dengan perpaduan warna yang begitu mencolok dan indah
seperti ini. Kupu-kupu itu diam-menempel pada album foto kepunyaan Ibu. Hanya
sesekali saja ia beranjak dari sana untuk sekadar mengepakkan sayapnya yang
indah di atas udara tak jauh di sekitar rumah. Setelah itu, tak lama kemudian
ia akan kembali lagi menempel di atas album foto, diam dan tidak bergerak
seperti telah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan hingga ia tak mau
membuang tenaganya hanya dengan terbang sia-sia saja.
Keberadaan
kupu-kupu yang sangat ganjil ini mengingatkanku pada mendiang Ibu. Sudah lama
ia mengoleksi kupu-kupu sampai tidak terhitung lagi berapa jumlahnya. Puluhan,
ratusan, bahkan ribuan. Ah, banyak sekali. Dengan telaten dan penuh perhatian
ia mengumpulkan dan merawat kupu-kupu yang ia temui di sekitaran rumah dan
kebun bunga milik keluarga. Bahkan untuk menyalurkan kecintaannya, ia
membuatkan kupu-kupu itu ruang terbuka di pekarang rumah bagian belakang. Ia
menyebutnya sebagai bengkel metamorfosa. Sebuah nama yang ia buat dan cetuskan
sendiri. Tampak tak lazim memang, belum pernah sebelumnya aku mendengar istilah
bengkel yang isinya bukan peralatan berat untuk memperbaiki alat transportasi
semisal: sepeda, mobil, motor, atau yang lainnya, melainkan sebuah tempat yang
isinya adalah ribuan kupu-kupu.
Aku
tak pernah menghiraukan atau menganehkan kebiasaan Ibu yang senang mengoleksi
kupu-kupu, walaupun sebenarnya aku merasa aneh mengapa Ibu mau membuang dan
mengorbankan waktu serta tenaganya hanya untuk meladeni dan mengurus kupu-kupu.
Sempat aku bertanya kepadanya mengenai alasan mengapa dia begitu senang
mengoleksi kupu-kupu yang begitu banyak. Ibu tak banyak menjawab. Ia hanya
mengatakan jika kupu-kupu merupakan jelmaan derajat yang begitu mulia. Sebuah
fase akhir yang indah dan menandai akan datangnya seseorang yang juga begitu
istimewa.
“Jika
ada seekor kupu-kupu yang hinggap di rumah kita, maka kita akan kedatangan
tamu. Semakin bagus dan besar kupu-kupunya, maka semakin besar pulalah derajat tamu
yang datang ke rumah kita,” kata Ibu selagi ia menyirami bunga di kebun
pekarangan belakang rumah. Bibirnya yang merah padam alami sedikit menyungging.
Ia tetap fokus pada kupu-kupu dan bunga-bunga yang berjejer di pekarangan
belakang.
“Bagaimana
hal demikian bisa terjadi, Bu?” tanyaku dengan begitu polosnya.
“Hahaha,”
Ibu tersenyum menggelitik, lalu melanjutkan, “Anak manis, kita hidup di sebuah
dunia yang banyak tanda. Salah satu bentuk tanda itu, ya, kehadiran kupu-kupu.”
Ibu menaruh alat penyiram bunganya, kemudian ia mengelus-elus rambutku seakan
ingin menghalau angin yang dengan nakal menerbangkan rambut tipisku di udara.
Tatapan Ibu seperti meyakinkanku yang tetap dipenuhi beragam pertanyaan yang
menjelma guratan-guratan yang tak terejawantahkan di dalam pikiranku. Aku diam
saja.
Aku
ingat betul, mendiang Ibuku mempunyai keinginan agar kupu-kupu yang paling
indah di dunia — berwarna pelangi hinggap di rumah kami sehingga ia dapat
melihat dan memilikinya, kedatangan tamu yang begitu istimewa — seseorang yang
berderajat tinggi dan ia harapkan tentunya. Aku baru menyadari jika kupu-kupu
yang senantiasa menempel pada album foto beberapa hari terakhir ini mirip
sekali dengan lukisan kupu-kupu yang dibuat sendiri oleh Ibu. Menawan dan
cantik sekali.
Ibu
begitu tergila-gila pada kupu-kupu. Setiap harinya ia pergi ke pekarangan belakang
rumah. Bisa seharian ia habiskan hanya untuk melihat dan memerhatikan kupu-kupu
yang terbang bebas di udara dengan harap ada kupu-kupu yang ia impikan hinggap
di rumah dan tak lama kemudian datang seseorang yang ia tunggu selama ini.
Seseorang ini tak aku ketahui sebelumnya, sebab Ibu tak pernah menceritakannya
kepadaku. Memang beberapa tahun terakhir ini Ibu tampak murung dan lebih senang
menyendiri, menghabiskan waktu dengan kupu-kupu sampai aku pun terabaikan. Sempat
aku mau memprotes tindakan Ibu yang menggantungkanku. Namun, Nenek selalu melarang
dan menghentikan aksiku ini sehingga aku tak bisa berkutik dan memilih untuk
diam kembali.
“Jangan,
Sayang. Jangan lakukan itu!”
“Kenapa,
Nek? Aku juga ingin menuntut hakku selaku anak agar dicintai dan mendapat
perhatian dari ibu sendiri. Sudah lama Ibu melepaskan perhatiannya padaku dan
lebih memperhatikan binatang. Sebenarnya anaknya itu aku atau kupu-kupu?!” aku
bersungut dan tak sadar telah mengagetkan hati Nenek.
“Jangan,
Sayang. Jika kamu sayang dengan Ibumu, tolong jangan lakukan itu! Ibumu hanya
butuh waktu. Biarkan saja.”
Nenek
sempat bercerita padaku jika sebenarnya Ibu sedang menunggu kepulangan Ayah
dari pelayaran. Aku memang tak mengenali ayah, bahkan mengetahui sosoknya pun
hanya lewat selembar foto usang yang disimpan baik-baik oleh Ibu. Ujung foto
itu sudah sobek-sobek, bahkan bagian permukaannya sangat kucel dan lecek sekali
sehingga aku tak bisa begitu melihat dengan jelas sosoknya seperti apa.
Ketika itu Ibu sedang
mengandungku dan baru masuk bulan keempat, Ayah pergi berlayar kembali dengan
meninggalkan sebuah janji pada Ibu jika beberapa bulan kemudian ia akan pulang.
Salah satu penanda akan kepulangannya adalah datangnya kupu-kupu yang begitu
elok dan indah yang warnanya menyerupai pelangi. Namun, sampai usiaku menginjak
angka sepuluh tahun, Ayah belum juga menunjukkan batang hidungnya. Sebagai
bentuk pelampiasan, Ibu dengan telaten membuat dan membangun ruang terbuka
untuk menangkarkan kupu-kupu dengan harap akan hidup seekor kupu-kupu seperti
yang dimaksud oleh Ayah dan tak lama kemudian Ayah akan hadir di hadapannya.
Keambisian Ibu semakin
memuncak. Salah satu bentuk kegilaan untuk mewujudkannya, ia pun membuat
penangkaran ulat. Banyak sekali ulat yang ia tangkarkan. Ketika melakukan suatu
perjalanan ke luar rumah misalnya, pulangnya pasti membawa ulat. Sekurangnya
ada lima ulat yang ia bawa. Hampir setiap hari demikian. Aku merasa jijik dengan
ulat-ulat yang Ibu tangkap dan dibiarkan berkeliaran dengan keliarannya di
pelataran rumah. Tahinya menyebar di mana-mana. Di beranda, di samping rumah,
bahkan ada yang di dalam rumah. Warnanya hitam pekat, bulat, dan banyak yang
sudah mengkristal. Ah, rasanya aku ingin membunuh dan membasmi semua ulat itu.
Aku jengkel dibuatnya. Setiap hari aku harus menyapukan kotoran itu dari teras
rumah. Namun, kejengkelan dan kemauanku untuk membunuh ulat itu berusaha aku
redam. Lagi-lagi aku teringat pada perkataan Nenek yang mengatakan jika aku
tidak boleh membunuh makhluk hidup seenaknya.
Dari
hari ke hari Ibu tak mengalami perubahan, terus saja ia mengutamakan mengurus
ulat-ulat dan kupu-kupunya. Satu per satu ulat yang Ibu tangkarkan akhirnya
berubah menjadi pupa hingga hampir semua ruang di pelataran belakang itu
dipenuhi oleh pupa sampai tak tersisa sedikit ruang pun, sekali pun untuk
bergerak. Dua bulan kemudian dari dalam pupa itu keluar kupu-kupu. Betapa
senangnya Ibu menyaksikan kejadian ini. Namun, tak berselang lama, ia menjerit
histeris dan sesekali tertawa.
“Tidak!
Hahaha, ini tidak mungkin!”
Entah
apa yang terjadi pada Ibu. Aku yang tengah mencuci piring di dapur seketika
terperanjat. Kulemparkan piring yang ada di genggaman. Dengan tangan yang masih
dilumuri sabun, aku lari terpental ke pelataran belakang rumah. Kusaksikan Ibu
tengah menangis dan tertawa sejadi-jadinya. Aku seperti menemukan sosok Ibu
yang lain, sungguh aku tak mengenali Ibu sama sekali. Setelahnya Ibu berteriak.
“Hahaha,
akan kubunuh kau!” Takkan kubiarkan kau hidup. Semua pembohong! Aku muak!”
Aku
segera memeluk Ibu, berusaha menahan dan menyadarkan ingatannya kembali. Mata
Ibu membelalak ke atas seperti tak menyadari apa yang sedang terjadi. Beberapa
hari setelah kejadian itu, Ibu semakin menggila dengan tindakan-tindakannya. Ia
mulai membunuhi setiap ulat yang ada di pelataran dan beranda atau kupu-kupu
yang dengan gagah tengah terbang di sekitaran rumah. Satu per satu kupu-kupu
dan ulat itu mati sia-sia dan kaku. Ibu membunuhnya dengan begitu sadis. Sayap
kupu-kupu dipatahkannya dengan tanpa rasa iba secuil pun. Setelahnya ia injak
hingga keluar cairan kuning-hitam menggenjrot ke permukaan. Tubuh ulat
diinjaknya dengan kasar, lalu kakinya diputar-putar hingga cairan hijau
memuncrat ke udara, tubuhnya remuk, gepeng menjadi rata dengan tanah.
“Hentikan,
Bu!” teriakku berusaha menghentikan aksi Ibu yang begitu kejam membantai
binatang yang tak berdosa.
“Diam!
Dasar anak ingusan. Tidak mengerti sedikit pun!”
“Bukankah
Ibu pernah bilang jika kita harus menyayangi binatang dan tak boleh
menganiayanya. Bukankah Ibu juga pernah bilang jika ulat itu sebuah lambang
sederhana untuk sampai pada fase yang menakjubkan. Ibu juga bilang jika kupu-kupu
itu istimewa, penanda akan hadirnya seseorang yang juga istimewa.”
“Halah,
persetan semua itu. Aku sudah muak. Pembohong semuanya! Tak akan pernah ada
kupu-kupu pelangi itu. Orang istimewa itu tak akan pernah datang lagi. Ia sudah
mematikan harapanku.” Ibu menyergap perkataanku, seakan ia mati kutu oleh
perkataannya yang lalu.
Hari-hari berikutnya Ibu sibuk mematikan
kupu-kupu dan ulat. Tak ada lagi Ibu yang begitu menyayangi kupu-kupu,
memeliharanya dengan baik. Seperti arah jarum jam yang berputar melawan arah, yang
ada sekarang adalah Ibu yang beringas. Setelah dirasa semua kupu-kupu dan ulat
yang berada di pelataran rumah habis terbunuh, Ibu melanjutkan pencarian ulat
dan kupu-kupu yang selanjutnya menjadi target pembunuhannya. Ibu pergi ke
taman, kebun tetangga, sawah, jalanan, dan ke semua tempat yang ada di kampung
tempat tinggalku. Yang terpenting hasratnya bisa terpenuhi, membunuh kupu-kupu
dan ulat yang menjadi cikal-bakal kelahiran kupu-kupu yang dianggapnya sebagai
sebuah pendustaan dan penghianatan. Karenanya Ibu akhirnya begitu membenci
hewan jenis itu.
Di
akhir hayatnya, Ibu ingin sekali melihat kupu-kupu yang berpendar di
hadapannya. Ia pun menyuruhku mencari dan membawakan untuknya. Sebuah
keniscayaan sekaligus keanehan jika tak ada satu pun kupu-kupu yang hidup di
daerahku. Aku berusaha mencarinya ke tempat lain, namun hasilnya tetap nihil,
tak membuahkan hasil sama sekali, aku tak menemui satu kupu-kupu pun di belahan
daerah mana pun. Raut kecewa dan penyesalan terpancar dari wajah Ibu yang
begitu kuyu dan layu dimakan usia. Sebelum benar-benar pergi, Ibu menyampaikan
sebuah wasiat yang membuat hatiku dan siapa pun yang menyaksikannya tertegun.
Menurut wasiat Ibu, kita jangan melakukan tindakan di bawah emosi seandainya
kita tak mau menyesal. Kita pun tak boleh membunuh ulat dan kupu-kupu yang
sarat akan perlambangan dan makna. Karenanya aku tak berani mengusir ulat dan
kupu-kupu yang datang ke rumah, baik yang menetap atau sekadar lewat saja.
Apabila pintu belakang
rumah dibuka dengan sedikit ditarik ke dalam, kemudian setelah daun pintunya
menyentuh bagian tembok, akan terlihat seekor ulat tengah menggeliat,
meliuk-liukkan tubuhnya yang berwarna cokelat tua berbintik hitam legam dari
ujung kepalanya hingga ke ujung lainnya yang tidak begitu gempal. Mulanya
kupergoki dia tengah berada di pintu masuk pekarangan bekas penangkaran
kupu-kupu. Kubiarkan dia sesuka hatinya mau pergi ke mana. Hingga akhirnya
sudah semingguan ulat itu hanya berdiam saja di atas alat penyiraman bunga
milik Ibu. Ia tak beranjak sedikit pun dari sana. Tak lama kemudian, ia berubah
menjadi pupa. Kuamati baik-baik pupa itu, bahkan setiap harinya aku pergi ke
pekarangan belakang rumah hanya unuk melihat perkembangan pupa ini. Dua bulan
sudah berlalu, pupa itu kini kosong tidak ada isinya. Aku mencari-cari
keberadaan makhluk yang sebelumnya ada di dalamnya. Namun, di pekarangan rumah
tak kutemui dia.
Aku berjalan masuk
menuju kamarku, tak sengaja kulihat ada seekor kupu-kupu tengah menempel pada
album foto kupu-kupu yang bercover wajah Ibu yang dengan gembira memegang hasil
lukisan kupu-kupu impiannya. Aku berjalan mendekati album foto itu. Sepertinya
inilah makhluk dalam pupa yang kucari sejak tadi. Sungguh ajaib, ini kupu-kupu
yang selama ini Ibu cari, sayap pelangi. Aku tersentak. Aku yakin jika Ibu
bertemu dengan kupu-kupu pelangi ini, ia akan sangat amat bahagia, sayang Ibu
sudah tiada. Aku begitu takjub melihat kehadiran kupu-kupu ini, namun tetap kubiarkan
dia, tak kusentuh sedikit pun. Lagi-lagi aku ingat wasiat mendiang Ibu agar aku
senantiasa tidak mengganggu dan menyakiti binatang, termasuk kupu-kupu.
Ke esokan harinya, tiba-tiba
album foto itu hilang dari tempat biasanya di ruang tamu. Aku panik setengah
mati. Segera kupentalkan tubuhku ke segala penjuru mencari keberadaanya, sebab
album itu begitu berarti bagiku. Sudah kucari ke semua penjuru rumah, namun tak
kunjung kudapati. Akhirnya aku pergi ke luar mencari angin. Lamat-lamat mataku
menatap ke arah pekarangan belakang rumah, kudapati album foto itu di sana
lengkap dengan kupu-kupu pelangi. Segera kupindahkan ke tempat semula, namun ke
esokan harinya album itu tidak ada di tempatnya lagi, lagi-lagi ia berada di
ruang penangkaran kupu-kupu. Sungguh aneh, siapa pula yang memindahkannya ke
pekarangan sebab tak ada seorang pun yang tinggal serumah denganku sejak
kepergian Ibu. Ah, tanpa berpikir panjang, aku segera memindahkannya kembali ke
ruang tamu, namun ke esokannya, album itu pindah lagi ke pekarangan belakang dengan
posisi kupu-kupu pelangi tetap menempel dengan setia di atas albumnya. Dua hari
kemudian, tak kudapati album foto dan kupu-kupu itu ada di rumah maupun pekarangan.
Hilang entah ke mana.
“Ibu,” gumamku
perlahan. Aku yakin jika Ibu telah menjelmakan dirinya menjadi sesuatu yang
lain, kupu-kupu pelangi itu. Tak lama kemudian, di ujung pintu berdiri tegap
seorang lelaki berbadan besar. Agaknya aku mengenali parasnya. Ah, sialan.
***
Komentar
Posting Komentar