Modernisme: Fundamen Pemikiran yang Melandasi Peradaban Modern, Pembentukan Subjektivitas, dan Perubahan Besar dalam Sejarah Kehidupan
Filsafat tidak dapat dipisahkan dari kenyataan perkembangan kehidupan di alam semesta ini. Filsafat terlibat dalam segala kebisingan gelora zaman yang riuh rendah dengan segala dinamika yang terjadi. Filsafat merupakan refleksi dari segala bentuk pengetahuan yang berasosiasi dengan berbagai bentuk kehidupan. Sejarah filsafat sendiri merepresentasikan suatu dialog berkesinambungan mengenai pertanyaan dan perkara manusia. Ketika zaman berubah, bentuk dan fokus pemikiran filsafat pun ikut berubah. Dalam hal ini, filsafat rupanya serupa dengan sebuah museum yang di dalamnya berisi kompilasi raksasa dari berbagai pendapat para pemikir mengenai misteri kehidupan.
Di dalam tradisi filsafat, khususnya Barat sebagai permulaan suatu kehidupan yang baru, termanisfestasikan suatu gagasan yang merupakan sebuah reaksi perlawanan terhadap metafisika dan sistem totaliter religius yang membuat kehidupan terjebak dalam situasi stagnan atau statis. Kestatisan sebagai buah dari metafisika dan sistem totaliter religius ini merupakan hasil dari pemikiran filsafat yang bercorak kosmosentrisme—alam merupakan pusat dunia dan inti dari segala kebenaran yang ada—dan teosentrisme—Tuhan dan agama adalah pusat dunia dan sumber segala kebenaran. Pemikiran yang demikian ini akhirnya menimbulkan praktik tradisional yang membuat kehidupan manusia semacam terkungkung dalam situasi statis tadi.
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, lahirlah sebuah pemikiran yang bernaskan bentuk kesadaran terkait dengan kebaruan sebagai bentuk respons terhadap keadaan statis yang telah berlangsung kurang lebih seribu tahun itu. Pemikiran filsafat yang dimaksud adalah modernisme. Setelah pemikiran modernisme berkembang, muncullah suatu keadaan hidup yang benar-benar lain dari pada era-era sebelumnya. Nilai-nilai tradisional seperti kepatuhan terhadap otoritas tradisi benar-benar menghadapi tantangannya dengan tumbuh suburnya niai-nilai baru yang tendensius terhadap kemampuan kodrati manusia. Akibatnya, era kemajuan zaman yang melingkupi sendi-sendi kehidupan pun mulai dirasakan oleh manusia. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi akar pemikiran yang melandasi suatu peradaban baru kehidupan manusia ini? Bagaimana ia mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan? Bentuk pengaruh seperti apa yang ditimbulkan oleh sesuatu yang baru ini? Persoalan mengenai fundamen pemikiran, pembentukan pengaruh, dan bentuk pengaruh dari modernisme inilah yang akan dibahas dalam artikel ini. Pembahasan akan dilakukan secara singkat, terperinci, dan jelas dengan pertama-tama menguraikan fundamen dari pemikiran yang menggawangi peradaban modern.
Sederhananya modernisme merupakan suatu gerakan yang bermaksud menerjemahkan kembali doktrin tradisional untuk disesuaikan dengan kehidupan yang mutakhir. Kemunculan filsafat modernisme ini menjadi awal era baru yang disebut dengan zaman modern—suatu zaman yang penuh dengan dinamika pembaharuan. Adisusilo (2013: 68) menyebutkan bahwa awal kemunculan era ini dimotori oleh kebangkitan renaissance yang membuat manusia seakan-akan lahir kembali setelah mengalami tidur panjang. Tidur panjang ini merupakan suatu cermin kehidupan manusia yang statis atau stagnan dalam satu titik, tidak ada sesuatu yang menggerakkan manusia untuk lebih berkembang dalam menyelami segala sendi kehidupannya.
Sugiharto (2000: 33) menuturkan bahwa apabila melihat dengan menggunakan kacamata filsafat, maka markah yang idiosinkratik dalam modernisme ialah kenyataan bahwa modernisme senantiasa berupaya melacak fundamen segenap pengetahuan tentang “apa”-nya kenyataan dengan jalan kembali lagi kepada subjek yang memafhumi itu sendiri. Berkaitan dengan itu, Hardiman (2007: 3) menjelaskan bahwa manusia menginsafi dirinya sebagai sentral kenyataan yang menjadi parameter semua hal dan berperan penting dalam memecahkan segala misteri kehidupan. Manusia mengambil alih peranan substansi yang selama ini telah berkembang. Yang terletak di bawah naungan seluruh kenyataan manusia, yang memikul kenyataan, itu diri manusia sendiri, bukan suatu prinsip di luar diri manusia. Situasi ini merepresentasikan bahwa dalam modernisme ada suatu pembentukan subjektivitas yang merefleksikan antroposentrisme—suatu kesadaran baru bahwa manusia adalah pusat dunia dan segala kebenaran—sebagai corak dari pemikiran modernisme itu sendiri. Suseno (2005: 219) menjelaskan bahwa subjektivitas berarti manusia menyadari bahwa dirinya merupakan subjek, ia tidak hanya mencari hakikat realitas, tetapi juga sadar bahwa dirinya seorang pencari. Ia sebagai subjek pun akhirnya menjadi penting.
Lantas, apa yang mendasari adanya pembentukan subjektivitas yang menjadi poin penting dalam pemikiran modernisme ini? Berkaitan dengan itu, maka nama Descarteslah yang kemudian akan muncul di pencarian ketika menelusuri dasar dari adanya suatu babak baru dunia ini. Descartes sendiri merupakan seorang filsuf yang lahir tahun 1596 di Prancis (Choiriyah, 2014: 234). Adapun rumusan yang menjadi titik pangkal pembentukan subjektivitas dalam modernisme ini adalah pemikirannya yang menyebutkan bahwa “saya berpikir, maka saya ada.” Pernyataannya ini merupakan perumusan pampat atau fundamen keinsafan era modern bahwa individu manusia mampu memafhumi realitas dengan rasio yang dimilikinya. Akibatnya terjadi suatu pendewaan terhadap rasio. Akal manusia dianggap sebagai satu-satunya power yang bisa membawa manusia pada kehidupan yang bahagia. Dengan begitu, Hamersma (1986: 3) menyebutkan bahwa akhirnya manusia menganggap dirinya sebagai faber mundi—insan yang mengonstruksikan dunianya sendiri, tidak lagi sebagai viator mundi—insan yang “berziarah” di muka bumi. Alhasil, manusia pun dapat berkarya dan membentuk dunia melalui kekuatan yang dimiliki dirinya, terutama pengakuan dan penggunaan akal sebagai tolak ukur segala kebenaran. Hal ini kemudian dikukuhkan oleh Kant (dalam Hamersma, 1986: 47) yang memperlihatkan bahwa “saya yang sedang bertindak” merupakan sebenar-benarnya “aku”, yaitu “aku sebagai pusat kebebasan”. Berkaitan dengan itu, Karl Marx yang memperoleh ilham dari Hegel menyebutkan bahwa manusia merupakan subjek dari sejarah (Farihah, 2015: 439). Itu artinya, subjektivitas dimengerti sebagai matra sejarah.
Hardiman (2007: 3) menerangkan bahwa sebagai bentuk kesadaran, modernisme ini ditandai oleh tiga mentalitas, yaitu subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Subektivitas dan kritik ini dalam bagiannya mengandaikan keyakinan akan kemajuan, sebab dalam hal ini manusia menjadi sentral pengamatan, sentral pemikiran, sentral kebebasan, sentral perasaan, sentral kehendak, sentral tindakan. Oleh karena itu, manusia terus melakukan berbagai upaya untuk memecahkan misteri kehidupan dan mencapai taraf kehidupan yang maju dan bahagia. Dengan upaya-upaya ini akhirnya membawa perubahan yang begitu besar dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan yang begitu kentara dari adanya modernisme adalah terjadinya modernitas, terutama terletak pada semakin kayanya teknologi dan ilmu pengetahuan. Kesuburan pertumbuhan teknologi dan ilmu pengetahuan merupakan suatu kemajuan yang meningkatkan peradaban manusia. Penemuan mesin cetak menandakan bahwa pengetahuan juga terbuka untuk khalayak—tidak lagi milik segelintir elite saja—, penemuan kompas juga menjadi bukti bahwa navigasi sudah mantap sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, penemuan-penemuan lain seperti mesin uap, telepon, kereta api, radio menjadi tanda bahwa cakrawala dan horizon manusia semakin jauh lebih luas di segala bidang
Hamersma (1986: 51) memaparkan bahwa modernisme ini membuat negara Barat mengalami banyak perubahan dengan hadirnya revolusi-revolusi. Revolusi yang terjadi tidak hanya terbatas pada keadaan politik saja, tetapi juga merambah bidang demografi, agama, teknik, dan bidang pemikiran lainnya. Industrualisasi semakin menggema dan banyak menarik orang-orang desa untuk pindah ke kota-kota besar yang akhirnya menyebabkan munculnya lapisan-lapisan baru di dalam kehidupan masyarakat, terutama proletariat industrial. Kapitalisme semakin melebarkan sayapnya. Eksploitasi terhadap buruh dan anak-anak pun berlangsung. Tumbuhnya penderitaan akibat adanya perang dan revolusi. Dalam perkembangannya, modernisme juga mengakibatkan disintegrasi di hampir segala bidang kehidupan manusia, yang mana manusia semakin sendirian. Banyak struktur sosial dan religius hilang. Sekularisme pun mengalami pertumbuhan suburnya.
Sugiharto (2000: 29) mengatakan bahwa terlepas dari berbagai kemajuan dan kebabahagiaan yang terjadi, modernisme dan segala tatanan yang dibentuknya juga mengakibatkan efek yang buruk. Dalam tataran praksis, beberapa di antaranya adalah adanya pengurasan dan objektivikasi yang berlebihan terhadap alam yang akhirnya mengakibatkan krisis ekologi karena pandangan dualistik modernisme yang membagi semua kenyataan menjadi subjek dan objek. Karena di dalam modernisme nilai positif-empiris menjadi kebenaran tertinggi, maka nilai-nilai moral dan religius mengalami pengkerdilan yang akhirnya mengakibatkan disorientasi yang pada bagiannya bisa meningkatkan depresi mental, alienasi, kekerasan, dan seterusnya. Pada akhirnya kepositivistisan dan keobjektivistisan pemikiran modern juga membuat manusia seperti objek—hubungan antarmanusia menjadi berdasarkan utilitarianisme dan fungsionalisme—, masyarakat pun direkayasa serupa mesin. Dengan kata lain, terbentuklah suatu mentalitas baru, yaitu mentalitas teknokratik—manusia dikuasai oleh teknik dan terbelunggu oleh metode yang telah diciptakannya sendiri.
SIMPULAN
Modernisme merupakan suatu aliran filsafat yang bernaskan kesadaran subjektivitas yang menekankan bahwa mansuia dengan kemampuan kodratinya adalah sumber dari segala kebenaran realitas sehingga filsafat ini pun bercorak antroposentrisme. Adapun yang menjadi fundamen pemikiran modernisme ini adalah pernyataan Descartes yang menyebutkan bahwa “saya berpikir, maka saya ada”. Hal ini merupakan suatu bentuk pengakuan terhadap eksistensi akal manusia. Dengan begitu, manusia menganggap dirinya sebagai faber mundi—orang yang menciptakan dunianya. Alhasi, manusia pun terus berkarya dan membentuk dunianya melalui kekuatan yang dimilikinya itu.
Dari dasar pemikiran modernisme, manusia terus melakukan upaya yang akhirnya bermuara pada suatu perubahan yang begitu besar dalam kehidupan mansuia, yaitu terjadinya modernitas. Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin kaya dan mengalami perkembangan yang begitu pesat. Penemuan-penemuan baru membuat horizon manusia pun semakin luas. Namun, kemajuan dan kemerdekaan manusia atas sesuatu yang lalu ini juga diikuti oleh suatu kekosongan dan konsekuensi buruk, salah satunya manusia menjadi semacam objek.
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo. 2013. Sejarah Pemikiran Barat: dari yang Klasik sampai yang Modern. Jakarta: Rajawali Press.
Choiriyah, Ngismatul. 2014. “Rasionalisme Rene Descartes.” Anterior Jurnal 13(2): 237—243.
Farihah, Irzum. 2015. “Filsafat Materialisme Karl Marx: Epistemologi Dialectical and Historical Materialisme.” FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 3(2): 431—454.
Hamesrma, Harry. 1986. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Gramedia.
Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern: dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sugiharto, Bambang. 2000. Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Kanisius.
Suseno, Franz Magnis. 2005. Pijar-Pijar Filsafat: dari Ghatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius.
Komentar
Posting Komentar